Perihal Kampung Kota & Surabaya

Begitu banyak waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar mengenal sebuah kota. Pagi itu di bulan Agustus, setelah dua tahun pindah dari Surabaya, saya terbangun pada kapsul hotel (sebuah novelty) di sekitar Monumen Kapal Selam. Surabaya tidak berubah. Pagi hari, apalagi weekend, terasa seperti secangkir Kapal Api, mengingatkan akan pahit manis tetapi tetap memberikan semangat lewat hangat mataharinya yang khas itu, juga lewat gairah warganya senam pagi dan bersepeda, merayakan kotanya. Saya lalu berjalan kaki menyusuri Jalan Pemuda, melewati Balai Pemuda yang sedang dipercantik, lalu kantor pos plus plus tempat ngopi anak muda, sampai rombong nasi goreng yang belum buka di sebelah Pak Gubernur Suryo, tempat saya dan kawan lama sering menghabiskan malam hari setelah lelah gowes keliling kota. Hingga, muncul pencakar langit baru di Surabaya, dua tower baru Pakuwon feat Tunjungan Plaza (TP). Saya menyeberang di jalan kecil di sebelah mall, dan lanjut berjalan kaki ke Kampung Plemahan, tempat yang saya tuju sudut kota yang absen saya sambangi selama hampir lima tahun jadi warga sementara Surabaya.


ngurbanin 1


Kampung Plemahan terletak tepat di belakang TP bersama kampung lain seperti Kampung Kaliasin. Karena lokasinya ini, bisa dibayangkan bagaimana kontras pemandangan di sekitar kampung saat amenitas masyarakat menengah ke bawah berpadu dengan mega infrastruktur megah dan mutakhir ala TP. Di sekitar Jalan Kaliasin Pompa, banyak bertebaran parkir dan warung makanan yang dimanfaatkan para pekerja TP untuk sarapan dan makan siang, juga rumah kost untuk mereka yang mengadu nasib dari daerah jauh. Saya berasumsi para pedagang di jalan ini mungkin belum pernah merasakan pengalaman dunia lain yang hadir di hadapan lokasi mereka beraktivitas sehari-hari. Di arah barat, gang kecil Jalan Plemahan mamadukan tembok tinggi pembatas mall dengan rumah-rumah warga yang berdesakan hingga Jalan Embong Malang. Di sisi ini juga, beberapa area Kampung telah berubah jadi tempat parkir mall dua tahun terakhir. Pendapat seorang teman, kehadiran tembok tinggi justru menyelamatkan Kampung agar tetap sederhana. Jika kedua lingkungan ini dipaksakan bercampur, justru ditakutkan Kampung akan tergerus spillover ekonomi mall. Bisa saja beberapa warung akan disasar untuk digubah oleh para merchant karena lokasinya yang strategis di dekat TP.

Situasi di Plemahan menggambarkan apa yang membentuk Surabaya saat ini, Kampung serta influx modal yang saling mengisi satu sama lain. Beberapa tahun terakhir, Surabaya cukup ramah untuk gedung pencakar langit. Setidaknya ada 65 bangunan berketinggian di atas 20 lantai di Surabaya dengan TP VI One Icon sebagai gedung tertinggi (52 lantai). Hadirnya puluhan gedung ini sejalan dengan ‘nilai’ Surabaya yang semakin populer sebagai kota yang nyaman untuk ditinggali. Pembangunan Surabaya yang semakin ‘ke atas’, tentu akan membawa banyak implikasi. Hadirnya lapangan kerja baru, meningkatnya migrasi karena kebutuhan tenaga kerja, hingga berubahnya citra kota Surabaya. Poin terakhir cukup terkait dengan elemen penting kedua yang membentuk Surabaya, yaitu Kampung. Berubahnya citra atau image kawasan karena pembangunan baru dapat dilihat sebagai sebuah proses gentrifikasi, atau berubahnya kondisi fisik, sosial, dan ekonomi sebuah kawasan akibat gelombang arus modal kapital menuju lokasi yang dibangun. Dampak yang paling sering dilihat adalah relokasi masyarakat Kampung yang hidup di kawasan sebelum pembangunan dilakukan; hilangnya Kampung sebagai sebuah serpihan puzzle yang membentuk Surabaya.

Kenapa Kampung begitu penting untuk Surabaya?

Kampung ada sebagai hasil dari masalah klasik pembangunan di Indonesia, di mana pembangunan formal, atau pembangunan yang diselenggarakan oleh perencanaan resmi, terstruktur, ataupun yang didukung oleh segala tetek-bengek pembayaran kredit dan kedinasan, hanya mampu digapai oleh masyarakat menengah hingga ke atas. Bagi mereka yang berada di lingkaran setan ekonomi menengah ke bawah, Kampung merupakan solusi rumah untuk mengadu nasib di kota. Karena itu pula, Kampung selalu diidentikan sebagai kawasan dengan tingkat kriminalitas tinggi, kumuh, dan bermasalah meskipun tidak sepenuhnya tepat. Di sisi lain, Kampung kota masih menyimpan modal sosial masyarakat yang guyub dan bergotong-royong. Di tengah masyarakat urban yang kian dituntut menjadi individualis, Kampung menjadi sedikit dari lokasi untuk menikmati romantisme keakraban masa lalu kota-kota Indonesia. Pada dasarnya penduduk Kampung berasal dari desa yang berpindah ke kota, sehingga kebanyakan masih memegang karakter perdesaan yang begitu terikat pada sebuah komunitas. Selain modal sosial, Kampung juga menyumbang permukiman swadaya untuk penduduk perkotaan. Surabaya tidak akan menjadi sebesar sekarang tanpa para pekerja yang mengadu nasib dan menghidupkan kota ini. Dan para pekerja membutuhkan rumah. Hampir 63 % penduduk Surabaya tinggal di Kampung, walaupun luasan Kampung hanya 7 % dari total luas kota [1].


ngurbanin 2


Potensi Kampung di Surabaya agaknya dilihat sebagai pondasi penting oleh pemerintah kota. Dikembangkannya berbagai kawasan real estate baru, menurut hemat saya, masih diimbangi oleh dukungan terhadap Kampung. Pada sebuah speech [2] Bu Risma, sang walikota, membeberkan puluhan program pengembangan komunitas di Surabaya hingga sebagian besar porsi waktu bicara habis untuk membahas topik ini. Kota dapat dilihat sebagai sebuah perangkat komputer yang memiliki perangkat keras (hardware) dan lunak (software). Hardware kota adalah infrastrukturnya, entah fasilitas publik, gedung, jalan, dan sebagainya. Tanpa kapasitas dan partisipasi masyarakat sebagai sebuah software yang mumpuni, sistem Surabaya sebagai sebuah mega-komputer terbesar kedua di Indonesia tidak akan berjalan untuk menyelesaikan masalah dan terus berinovasi. Untuk itu, di tengah pembangunan vertikal yang kian digalakan untuk meraup pajak daerah, keuntungannya tentu perlu dialokasikan untuk investasi jangka panjang yang lebih penting: masyarakat yang tidak segan berpartisipasi dan memiliki modal sosial ataupun ekonomi untuk berkehidupan lebih baik. Hingga akhirnya, gentrifikasi yang terjadi di Surabaya bukan diakibatkan oleh faktor eksternal seperti kapital modal yang kerap berbuah relokasi, tetapi kemampuan masyarakat Kampung Surabaya untuk memperbaiki lingkungan dan kehidupannya sendiri. Opsi terakhir akan dibarengi oleh terjaganya amenitas dan karakter masyarakat Kampung kota Surabaya yang erat akan komunitas, tetapi tetap terbuka dengan perubahan yang semakin dinamis dan plural, seperti yang saya rasakan.

Seminggu di bulan Agustus saya habiskan di Plemahan. Semakin saya tahu bahwa begitu banyak sudut Surabaya yang belum saya kenali. Di tengah apresiasi pada  ‘bunga sakura’ di Surabaya, kawan-kawan begitu menyayangkan perubahan yang begitu pesat terjadi di kota ini, rumah mereka. Mungkin saja program-program andalan Bu Risma tidak akan sejitu lesatan modal besar-besaran investor menuju Kota Pahlawan, mungkin juga sebaliknya. Yang saya tahu setelah beberapa tahun, kota ini tetap ramah dan nyaman dengan kekikukan obrolan masyarakatnya yang berubah garang ketika beradu pendapat. Sangat khas arek Suroboyo made in Kampung. Tak kuat lagi berjalan balik, saya memesan ojek online dan menghabiskan malam terlelap di kapsul hotel (sebuah novelty) di Kota Surabaya.



Putu Praditya AP 01/19


[1] Rita Ernawati, Happy Ratna Santosa, &  Purwanita Stijanti (2013) –  Facing Urban Vulnerability through Kampung Development, Case Study of Kampungs in Surabaya, Indonesia. Humanities and Social Sciences Vol. 1, 2013.

[2] Indonesian Scholars International Convention Simposium International PPI Dunia 2017.